PASANGKAYU, Sulawesiterkini.net – kabupaten Pasangkayu yang terdiri dari 12 kecamatan, 69 desa dan 3 kelurahan ini memiliki banyak potensi wisata yang menawarkan view eksotik.
Penulis : Aspar
** Jembatan Kesetiaan Pantai Batu Oge
Dengan bentangan pantai kurang lebih 157 kilometer, bumi Vova Sanggayu ini menyimpan berbagai potensi wisata yang layak untuk dikunjungi setiap akhir pekan atau libur hari raya dan pergantian tahun, baik itu wisata bahari, wisata alam maupun wisata budaya.
Berdasarkan catatan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) kabupaten Pasangkayu, potensi wisata itu terdapat 29 tempat terdiri dari wisata alam seperti goa, wisata bakau dan air terjun. Wisata bahari seperti pantai Maleo, pantai Koa-Koa, pantai Tanjung Babia, pantai Batu Oge, partai Salu Kaili dan pantai Cinoki serta wisata budaya ditempat warga suku Bunggu dengan rumah di atas pohon dan lain sebagainya.
Untuk wisata bahari, salah satu yang menjadi tempat vavorit wisatawan berkunjung yakni pantai Batu Oge, di desa Batu Oge, kecamatan Pedongga. Pantai ini memiliki hamparan berkisar 3 kilometer dan jarak tempuh dari ibukota kabupaten tidak begitu lama, jika menggunakan roda empat atau roda dua tidak sampai 30 menit sudah tiba ditempat wisata.
Batu Oge diambil dari dua batu yang masih kokoh dan memiliki kisah tersendiri dan dipercaya warga setempat bahwa batu itu adalah sepasang kekasih yang diasingkan oleh keluarganya karena memiliki hubungan asmara terlarang.
“Dua batu yang terletak disisi kiri dan kanan jembatan, memiliki sejarah tersendiri tentang perwujudan kesetiaan dua insan kekasih. Karena memiliki hubungan cinta begitu kuat, sementara mereka ada hubungan darah dan tidak direstui, sehingga diasingkan oleh keluarganya. Namun karena kekuatan cinta, mereka memilih melakukan pertapaan sendiri-sendiri sampai berubah wujud menjadi Batu,” tutur mantan Kades Batu Oge, M. Takdir Arifin, Senin (25/07/22).
Masyarakat pada umumnya lebih mengenal Batu Oge itu dengan Pedanda pantai, sebelum kabupaten Pasangkayu mekar menjadi satu daerah otonom dari kabupaten Mamuju pada tahun 2003 silam.

Wisata Batuoge menawarkan eksotik tersendiri. Selain tempatnya yang teduh karena banyak terdapat pepohonan seperti kelapa dan mangrove, sebelah utara terdapat hamparan terumbu karang yang menjadi tempat bermain ikan, sehingga bagi yang hobi mancing, bisa datang untuk menjajal kekayaan alam bawah lautnya.
Sementara dibagian selatan, terdapat hamparan pantai yang luas. Bagi yang suka berjemur dan mandi air laut, bisa mengajak sanak famili atau kerabatnya untuk berlibur di sana.
“Berdasarkan keterangan orang yang pernah menyelam, suasana alam bawah lautnya belum rusak dan banyak jenis ikan. Sehingga bagi yang hobi snorkeling silahkan datang ke tempat wisata Batuoge,” ujar Takdir.
Selain itu, pantai Batu Oge juga dijadikan tempat Penyu untuk bertelur. Bagi yang ingin melihat hewan vertebrata dan dilindungi oleh pemerintah ini bisa dengan berjalan kaki menyusuri pantai yang panjangnya kurang lebih 3 kilometer.
Pada masa M. Takdir Arifin menjabat Kades Batu Oge, ia menyulap pantai Batu Oge yang sudah mulai ditinggalkan oleh wisatawan dengan membangun jembatan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa) pada tahun 2021 kemarin dengan nilai Rp 273 juta. Di depan jembatan juga dibuatkan panggung hiburan dengan total anggaran sebesar Rp 57 juta.
Jembatan ini pun diberi nama jembatan kesetiaan yang berbahan baku dari kayu kemudian diberi cat warna warni. Nama tersebut diambil dari kisah dua pasang kekasih yang diasingkan dan tetap setiap hingga maut menjemput mereka.
“Nama itu kami beri dengan harapan, bagi pasangan atau suami istri yang datang berkunjung ketempat wisata kami, dapat menjaga hubungannya dan tetap setia dengan pasangannya masing-masing sampai ajal menjemput,” pungkasnya.
** Festival Budaya Di Pantai Koa – Koa
Keindahan alam kabupaten Pasangkayu begitu banyak yang bisa dijadikan objek wisata, karena tidak kalah menarik dengan yang ada di daerah lain. Selain pantai Batu Oge dengan jembatan kesetiaannya, di bagian utara kota Pasangkayu, juga terdapat tempat wisata bahari yang sudah menjadi favorit wisatawan dari berbagai daerah yang berbatasan dengan kabupaten paling utara di Sulawesi Barat ini.
Pantai tersebut diberi nama Koa-Koa, yang menjadi kebanggaan warga di dusun Kayu Maloa, desa Polewali, kecamatan Bambalamotu, karena menyimpan berbagai macam tempat yang sangat eksotis.
Hamparan laut biru yang membentang luas dari utara ke selatan dengan ombak kecil menggulung hingga jatuh bebas menghasilkan buih ombak putih cerah dan terlihat saling berkejaran mencapai bibir pantai, pemandangan ini tentunya menjadi magnet tersendiri bagi para wisatawan.
Bentangan pantai berkisar 2500 meter tersebut adalah tempat bertelurnya Penyu yang selalu dijaga masyarakat setempat dan Pemerintah desa Polewali, serta pohon mangrove yang juga masih terjaga.
“Menurut yang pernah menyelam, dihadapan pantai Koa Koa itu, terdapat terumbu karang yang sangat indah dan masih terjaga. Ombak menggulung yang terjadi pada waktu-waktu tertentu sangat baik untuk peselancar, sehingga pantai ini sangat berpotensi dijadikan wisata bahari” terang mantan Camat Bambalamotu, Masrah, saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu dikediamannya.
Setiap penjuru, mata pengunjung akan dimanjakan dengan view yang sangat eksotik, masing-masing objek mampu menawarkan panorama yang sangat indah dengan segala keunikan yang dimilikinya, dari arah utara misalnya terlihat bongkahan batu cantik memanjang menyusuri tepian pantai sampai membentuk gugusan batu besar yang di ujungnya tumbuh sebatang pohon kelapa bak nyiur melambai ke arah pengunjung.
Tidak begitu jauh dari arah gugusan batu tersebut, terdapat terumbu karang yang menjadi rumah besar bagi biota laut, tentu ini akan menjadi tempat yang sangat menarik bagi para pecinta snorkeling dan menjadi spot yang sangat bagus bagi anda yang maniak mancing, tapi tentu dengan tetap mengusung misi yang sama yakni tetap menjaga ekosistem dan ekologi lingkungan demi keberlangsungan organisme yang tumbuh dan hidup di dalamnya.

Tak hanya itu, berkisar 200 meter dari bibir pantai lautnya juga agak dangkal, sehingga anak-anak kecil yang ingin berenang relatif aman. Di sekitar pantai juga tersedia kuliner khas daerah yang variatif dijajakan masyarakat setempat, walaupun sifatnya kondisional.
“Kalau untuk kulinerya tidak setiap hari ada masyarakat yang menjualnya, semua tergantung dari pengunjung. Maka dari itu, dibutuhkan sosialisasi keluar agak pantai ini bisa dikenal supaya padat akan pengunjung” lanjut Masrah.
Kepala Disbudpar Pasangkayu, M. Yunus Alsam mengatakan, untuk pengembangan potensi wisata di kabupaten Pasangkayu, pemerintah daerah bekerja sama dengan PT. Astra Agro Lestari Tbk.
Khusus pantai Koa – Koa itu akan dijadikan event tahunan balapan gerobak sapi. Setelah tertata dengan baik, dengan anggaran perbaikan dari pemerintah pusat, terhitung sudah dua kali dilakukan festival kayu maloa dengan peserta yang datang kebanyakan dari wilayah Sulawesi Tengah.
Namun, saat pandemi covid-19 mewabah, festival serupa tidak pernah lagi dihelat. Setelah wabah ini berlalu, Disbudpar akan kembali melakukan kegiatan festival, dengan tujuan menarik minat pengunjung.
“Kita sudah rencanakan, tapi bukan hanya gerobak sapi yang akan dilombakan, balapan perahu Katinting juga akan kita laksanakan serta berbagai kegiatan pada festival nanti. Tapi kapan dilangsungkan, itu belum ada kepastian karena berbagai pertimbangan,” ungkap Yunus Alsam.
Katanya, salah satu kegiatan yang akan dihelat saat festival nanti adalah budaya, karena kabupaten Pasangkayu memiliki banyak suku dan etnis, namun yang akan ditonjolkan nantinya adalah budaya dari suku Bunggu.
“Kenapa suku Bunggu kita munculkan, karena mereka ini masih mempertahankan budaya mereka, baik dari pakaian sampai tempat tinggal di atas pohon kayu bersama keluarganya. Kita mau memperlihatkan kepada dunia, bahwa kita juga sampai sekarang ini memiliki suku terasing,” pungkasnya.





Komentar